Sabtu, 04 April 2015

Senyuman karena Desa Mantar

Desa Mantar merupakan salah satu desa tertinggi yang ada di kawasan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Desa ini sungguh menenangkan dan membuat tersenyum baik lucu ataupun hanya karena senang. Penduduk di desa Mantar ini sangat ramah dan rasa kekeluargaan disini sangat terasa kental, bahkan gue yang pendatang pun merasa nyaman berada disini.



HOW TO GET THERE 
Bisa langsung naek pesawat sampai Lombok, lanjut ke pelabuhan kayangan naek engkel 3 jam (semacem elf) 25rb, nyebrang 2 jam ke Pototano dari Kayangan 20rb, lanjut Telpon ranger untuk diantar dengan mobil bak dengan waktu 1 jam kurang lebih dan biaya 40rb PP.




WHERE TO STAY
Disana pernah dijadikan lokasi shooting film serdadu kumbang katanya, tapi itu bukan alesan gue mau berkunjung ke Mantar. Salah satu teman mengajak kesana seusai trip dari Kenawa dan Moyo yang akan gue ceritain nanti, pas googling liat daerah ini memang bener2 indah bagaikan desa di atas awan. Disini kemaren gue tinggal di rumah kepala desanya, semalam ber5 kami patungan masing2 30rb per orang, dapet makan 2 kali.


Sesampainya disana waktu itu pukul sekitar pukul 3 siang, langsung beristirahat sejenak tidur di rumah pak kades yang sederhana tapi nyaman. Lalu kebangun sekitar jam 5an dan bersiap buat mengejar sunset di tebing di belakang desa ini.


Dianter sama seorang warga asli desa, kami pun menyusuri sawah, kebun dengan pemandangan yang selalu bikin tersenyum, misalnya lewat lapangan bola yang berumput hijau, lalu ada pun beberapa ekor kuda sumbawa yang sedang asik makan rumput, atau seorang kakek tua yang duduk dipinggir lapangan hanya menyaksikan anak-anak bermain bola. Karena gue dan Fernand keasikan moto kuda, kakek, kebun jagung dan orang-orang yang lalu lalang di sawah, kami pun ketinggalan rombongan dan tersesat ke tempat yang ternyata bukan tempat yang biasanya tapi sunset tetap terlihat sangat indah dengan latar belakang laut lepas dan bayangan gunung rinjani serta silhouette rumah kecil, kerbau dan beberapa pohon, akhirnya kami pun berjumpa kembali dengan yang lain dan kembali ke rumah pa kades setelah matahari hilang bersama dengan munculnya bintang dan bulan di langit.











Kami pun beristirahat sejenak dan disini tidak ada signal sama sekali jadi ga bisa maenin HP, tapi uniknya setiap rumah disini memiliki "penguat signal" tradisional ala mereka. Penguat signal ini berupa kabel yang disambungkan ke antena/parabola TV, lalu diujungnya diikat dengan potongan sendal jepit dan karet buat ngaretin HP, jadi kalo HP kita dikaretin ke "penguat signal" ini ya ada signal, tapi cuma bisa telepon dan sms aja sih, tapi itu unik. hahaha.




Baks adalah orang pertama yang mandi, kamar mandi terletak di samping luar rumah. Selesai dia mandi, mukanya mengerenyit sambil berbisik: "ada ikan di baknya, terus atasnya pendek, ga bisa berdiri mandinya.." kami pun tersenyum. Taunya emang bener, pas giliran gue mandi, bener2 ga bisa berdiri tegak dan di bak nya ada ikannya, that was really fun dan gue lagi-lagi tersenyum karena menurut gue ini lucu, hahaha.


Keesokan harinya bangun pagi jam 5an dan ceritanya mau cari sunrise, lagi-lagi gue dan Fernand kembali terpisah dari rombongan dan ke tempat yang beda tapi ga salah, hahaha. Dari matahari belum muncul sampe dia muncul dan keliatan pemandangan awan yang nyelimutin layer gunung-gunung dan bukit dari kejauhan yang bikin kita kaya lagi ada di atas awan.






Desa Mantar ini bikin gue tersenyum dari berangkat sampe pulang, karena terkadang bukan hanya karena lokasi kemana kita traveling tapi juga karena orang-orangya.


Selamat jalan-jalan semoga kita berpapasan.


Cheers,




Febrian

3 komentar: