Senin, 22 Desember 2025

Uzbekistan: Kirain Cuma Gurun & Unta, Ternyata Ada Salju & Kereta Cepat!

 Jujur aja, pas denger kata "Uzbekistan", apa yang ada di kepala lo? Gurun pasir? Unta? Aladdin? Sama, gue juga gitu awalnya. Gue pikir bakal panas-panasan ala film Prince of Persia. Tapi ternyata, negara ini adalah plot twist terbesar gue tahun ini. Alih-alih ketemu gurun gersang, gue malah disambut angin musim dingin yang bikin gigi gemeletuk, pegunungan salju yang megah, dan kota yang rapi banget. Gue datang buat nyari jejak sejarah, eh pulangnya malah jatuh cinta sama vibe-nya yang chill tapi magical.

Jurus "Fly-Thru" Anti Ribet

Perjalanan ke negara pecahan Soviet ini kedengarannya kayak misi yang ribet, kan? Padahal aslinya santuy banget. Gue terbang bareng AirAsia lewat Kuala Lumpur. Nah, kuncinya ada di fitur Fly-Thru. Ini ibarat cheat code buat travelerBayangin, bagasi gue langsung diurus sampai tujuan akhir. Gue nggak perlu lari-larian ambil koper terus check-in ulang di KL. Cukup bawa badan, paspor, sama perut yang siap diisi. Ngomongin perut, momen makan Santan meal, si legendaris Nasi Lemak Pak Nasser, di ketinggian 30.000 kaki itu rasanya beda. Makan nasi lemak sambil ngebayangin Jalur Sutra itu sensasi fusion yang unik. Duduknya juga di Hot Seat, jadi kaki gue yang panjang ini (anggap aja gitu ya) bisa selonjoran enak. Penting banget nih buat nyiapin tenaga sebelum explore negara orang.




Samarkand: Definisi "No Filter Needed"

Mendarat di Tashkent, kita nggak lama-lama. Besoknya langsung gas ke Samarkand naik kereta cepat Afrosiyob. Iya, lo nggak salah baca. Uzbekistan punya kereta cepat yang on time banget, bikin kereta yang sering telat di negara konoha jadi kelihatan cupu.




Begitu sampai di Registan Square, rahang gue reflek jatuh. Gila, ini bangunan apa lukisan? Tiga madrasah raksasa dengan keramik biru turquoise yang detailnya nggak masuk akal. Gue curiga arsitek zaman dulu punya OCD, soalnya simetris dan rapi banget! Mau difoto pake kamera HP kentang pun hasilnya bakal tetap bagus. Di sini, lo diem aja udah estetik.



Kita juga mampir ke Shah-i-Zinda, kompleks makam yang lorongnya biru semua. Rasanya kayak masuk ke feedInstagram selebgram yang temanya blue aesthetic. Tapi di balik keindahannya, tempat ini tenang banget. Bikin adem hati, walau dompet mulai panas liat kerajinan tangan di Siyob Farmers Market. Roti lepeshka di sana gede-gede banget, bisa buat bantal tidur kalau kepepet.





Oh iya, kita juga ke Konigil Village. Di sini gue liat pembuatan kertas tradisional yang prosesnya lamaaa banget. Beneran mengajarkan kesabaran, beda banget sama kita yang dikit-dikit refresh halaman tracking paket.






Amirsoy: Salju di Tengah Asia? Seriusan?

Ini dia plot twist-nya. Hari keempat, kita cabut ke Bostonliq buat main ke Amirsoy Ski Resort. Siapa sangka negara yang gue kira isinya cuma pasir ini punya resor ski kelas dunia? Naik gondola ke puncak gunung Tian Shan, pemandangannya putih semua ketutup salju. Gue liat bocil-bocil lokal jago banget main ski, sementara gue jalan di salju aja masih takut kepleset. Tapi seru parah! Dinginnya udara gunung ketemu hangatnya suasana di sana bikin gue sadar: Uzbekistan itu paket komplit. Mau sejarah ada, mau alam juga juara.





Tashkent: Penutup yang Bikin 'Sadar'

Sebelum pulang, kita keliling ibu kota Tashkent. Kota ini rapi, bersih, dan vibe-nya campuran antara modern sama klasik. Tapi momen puncaknya ada di Khazrati Imam ComplexDi sini tersimpan Al-Qur'an Mushaf Utsmani yang super tua. Liat naskah asli di depan mata itu rasanya, speechless. Ada aura sakral yang bikin bulu kuduk merinding (dalam artian positif). Di tengah hiruk pikuk perjalanan, tempat ini ngasih jeda buat napas dan refleksi diri. Bahwa perjalanan jauh itu bukan cuma buat pamer di story, tapi buat ngisi jiwa.



Kesimpulan: Kapan Lo Nyusul?

Gue balik dari Uzbekistan dengan koper penuh oleh-oleh dan hati yang penuh cerita. Gue belajar kalau keindahan itu kadang ada di tempat yang nggak kita duga. Dan buat lo (terutama cewek-cewek) yang ragu mau ke sini sendirian: Don't worry! Aman banget. Orang sini ramah-ramah, paling cuma ngeliatin lo karena penasaran aja.


Jadi, daripada bengong nungguin cuti tahun depan, mending mulai cek tiket AirAsia sekarang. Uzbekistan itu nyata, dan jauh lebih keren dari sekadar cerita 1001 malam. Yuk, berangkat!



Kamis, 27 November 2025

Di Antara Karang yang Tumbuh dan Anak-Anak yang Bermimpi: Cerita dari Pulau Obi

Ada perjalanan yang tujuannya bukan buat mencari tempat baru, tapi buat nemuin diri sendiri dengan cara yang sederhana. Buat gue, Pulau Obi di Halmahera Selatan jadi salah satunya. Datang tanpa ekspektasi, gue pulang dengan rasa yang susah dijelaskan, kecuali lewat cerita. Obi pelan-pelan membuka dirinya lewat laut yang jernih, desa-desa yang tulus, anak-anak dengan mimpi besar, dan momen-momen kecil yang bikin gue berhenti sejenak lalu bilang dalam hati, Indonesia sebesar dan seindah ini ya.

Kadang, tempat paling indah itu justru yang jarang dibahas orang. Pulau Obi jadi salah satu kejutan terbesar buat gue tahun ini. Bukan cuma soal pemandangan yang cakep, tapi juga tentang lautnya yang masih sehat, orang-orangnya yang hangat, dan energi positif yang gue bawa pulang. Perjalanan ini rasanya bukan liburan, tapi perjalanan hati.

Begitu sampai, suasana Obi langsung beda. Gak ada hiruk pikuk kota, gak ada hidup yang serba buru-buru. Yang ada cuma laut luas, bukit hijau, angin yang nyapu pelan, dan sambutan warga yang tulus. Setiap kali gue jalan keluar, rasanya punya ruang lebih buat bener-bener ngeliat sekitar. Ombaknya tenang, vibe-nya adem, dan semuanya terasa apa adanya. Obi gak berusaha jadi cantik karena dia memang dasarnya udah cantik.

Di Desa Soligi, gue langsung ngerasain ritme hidup yang nyatu sama alam. Warganya hidup sederhana, hangat, dan penuh rasa syukur. Sebagian besar dari mereka adalah nelayan, dan dari mereka gue belajar satu hal penting. Laut itu bukan tempat kerja doang, tapi rumah. Cara mereka ngejaga laut keliatan dari hasil tangkapannya. Ikan-ikan yang dibawa pulang segar semua, tanda kalau laut Obi masih sehat dan cara mereka mengambil ikan tetap bertanggung jawab. Dari Soligi gue ngerti bahwa sustainability bukan konsep, tapi budaya.

Sebagai seorang diver, gue paling penasaran dengan dunia bawah laut Obi. Visibilitasnya jernih banget, terumbu karangnya hidup dan warnanya kuat. Banyak spot yang masih terasa untouched, kayak halaman buku alam yang belum pernah diganggu. Selain diving, gue juga ikut kegiatan restorasi coral di sini. Kita nanam fragmen coral, nempelinnya satu per satu. Prosesnya simple, tapi ngeliat coral kecil nempel di rak restorasi bikin gue ngerasa ikut ambil bagian dalam masa depan bawah laut Obi. Langkah kecil, tapi punya arti besar.

Obi sendiri bukan sekadar pulau cantik. Ini bagian penting dari jantung biru Indonesia Timur, salah satu wilayah laut paling berharga di negeri ini. Obi punya terumbu karang yang sehat, perairan kaya biota, dan potensi besar untuk konservasi serta riset kelautan. Bahkan, laut Obi dikenal sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati yang menakjubkan, mulai dari Hiu Macan hingga Ikan Napoleon yang dilindungi. Menyadari potensi dan kerentanan ekosistem ini, berbagai inisiatif konservasi digalakkan. Salah satunya adalah upaya yang dilakukan oleh Harita Nickel melalui program berkelanjutan untuk menjaga laut Obi yang kaya terumbu karang dan ikan, sejalan dengan visi warga lokal untuk merawat rumah mereka. Kalau Obi terjaga, Indonesia juga ikut kuat. Laut yang sehat berarti ketahanan pangan, coral yang tumbuh berarti ekosistem yang stabil, dan generasi mudanya adalah masa depan yang bisa mengubah banyak hal.

Perjalanan ini juga ngenalin gue sama Desa Kawasi, tempat gue ketemu anak-anak dengan mimpi yang jernih dan besar. Mereka cerita dengan mata berbinar tentang cita-cita jadi dokter, pelaut, guru, atau insinyur. Yang bikin hati gue hangat, mereka pengen balik lagi ke Obi setelah sekolah buat bangun kampung mereka sendiri. Di tempat yang jauh dari kota, mimpi mereka justru terasa lebih jujur dan lebih kuat. Dari mereka gue sadar, masa depan Obi gak cuma ada di alamnya, tapi juga di anak-anaknya.

Dari setiap langkah di pasir Obi, setiap percakapan singkat di desa, sampai gerakan kecil menanam coral di bawah air, gue merasa kayak lagi diajak memahami sesuatu. Bahwa jagain Indonesia itu gak selalu lewat hal besar. Kadang lewat hadir, lewat dengerin cerita, lewat tangan kecil yang nanam coral, atau lewat anak-anak desa yang belajar dengan semangat luar biasa.

Gue pergi dari Obi dengan perasaan yang sama kayak coral kecil yang baru ditempel di rak restorasi. Masih muda, tapi punya harapan panjang. Semoga suatu hari nanti gue bisa balik dan lihat semuanya tumbuh lebih kuat. Obi ngasih gue banyak hal yang gak bisa dibeli. Dan rasanya sekarang, waktunya kita ikut ngasih balik.




















Minggu, 04 Oktober 2020

Mau ke Lombok? Bisa kemana aja ya?


Hai pemirsa dimana pun kalian berada, as I promised to you guys, gue akan reveal kemanakah gue pergi kemaren itu. Terima kasih ya udah ikutan menjawab teka-teki yang lumayan menghibur, bahkan sangat menghibur sih, makasih banget. Energi kalian bener-bener luar biasa. Jadi sebenernya beberapa dari lo ada yang bener jawabnya. Tapi gue diemin aja dulu biar lo bisa baca tulisan ini. Kemaren gue 3 hari 2 malem ke satu kota di daerah rahasia, ga deng. HAHAHA. Gue ke Lombok, Nusa Tenggara Barat dan perjalanan kali ini thanks to Agoda.com.  Sebelum share pengalaman gue kemaren, gue ga bosen-bosennya buat ingetin lo untuk selalu ikutin protokol kesehatan, jaga kebersihan, pake masker, cuci tangan, dan semua pengamanan yang diperlukan jika lo bepergian.


Cocok juga ya pake baju asli sini.


Jadi gue tuh kemaren ke Lombok dan nginep di daerah Senggigi, di sebuah tempat indah bernama Qunci Villas. Dari sana, gue menjelajahi lokasi-lokasi favorit dan destinasi baru di sekitar Lombok, menikmati sajian kuliner setempat, dan menyelami keunikan budaya Lombok. Penginapan ini terletak di tepi pantai, punya vila 1 hingga 3 kamar tidur, pilihan akomodasi yang bagus untuk pasangan, teman atau keluarga yang traveling bareng. Gue beruntung kemarin mendapat kamar ocean view yang ternyata sangat bagus viewnya. Enaknya lagi, lo bisa pesan penginapan seperti ini melalui Agodadan dapatin harga khusus melalui kampanye GoLocaldi mana ribuan hotel dan mitra Agoda Homes di seluruh Indonesia berbagi penawaran menarik dan diskon hingga 25% untuk kalian yang ingin memulai perjalanan lagi dan menjelajahi negara indah ini.


Kamarnya bagus deh nyaman.



Nah, gue mau kasih tau nih kemana aja sih gue kemaren selama GoLocal dan kasi tau ke lo hidden treasure di Lombok, siapa tau lo juga berencana ke Lombok nanti kalo udah bisa traveling dengan aman lagi.


  • Desa Sukarara dan Desa Sade

Menurut gue, wajib banget ngunjungin tempat ini yang sarat sama budaya dan tradisi, jadi kita bisa kenal Lombok lebih jauh lagi. Di Sukarara dan Sade, lo bisa liat rumah adat asli Lombok, penduduk setempat yang merupakan penenun kain, juga bisa beli oleh-oleh. Bisa buat orang tersayang. Ga harus pacar kok, kan belum punya. Seru sih, cobain deh.


Bagus deh view nya dari atas sini.


  • Pantai Seger

Oh, yes. Selain pantainya yang sangat indah, tempat ini sangat menakjubkan, hanya 20 menit berkendara dari Desa Sade. Bagi yang menyukai alam dan budaya, Pantai Seger sangat menarik karena ada legenda putri yang menjadi patung di sini. Legenda Puteri Mandalika dan cacing laut atau yang disebut nyale oleh penduduk setempat. Jadi, katanya dulu Puteri Mandalika ini jadi rebutan pemuda-pemuda sampe hampir terjadi peperangan. Supaya ga ribut, dia kabur ke laut dan berubah jadi nyale agar daerah ini tetap damai. Wah gila juga ya, kecantikannya mungkin memang secantik pantai seger ini. Unik!


Cakep ya


  • Bukit Merese

Lokasi ini bener-bener 360° bagus, pemirsa! 

Depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah sedap dipandang, tempat yang jadi favorit buat nikmatin sunset ini. Luas banget dan gue ga pernah bosen buat kesini, apalagi pas sunset.  Ya Tuhan, indah banget. Pemandangan bukit, laut, pantai, sama sunset semua bersatu menjadi sebuah sajian yang bener-bener ngemanjain mata banget. Tapi ati2 ya sama barang bawaan, soalnya banyak monyet-monyet usil. Mending diusilin si dia daripada ama monyet di Bukit Merese, LOL.


Sunset disini memang tiada duanya.


Bukit Merese dari drone view.
  • Air terjun Tiu Kelep dan Sendang Gile

Ga lengkap rasanya kalo ke Lombok tapi ga ngunjungin air terjun, terutama jika lo suka banget hiking dan adventure. Ada beberapa air terjun di Lombok, tapi favorit gue adalah Tiu kelep dan Sendang Gile. Dua air terjun ini ada di daerah Senaru dan trekking-nya sejalan gitu, ya mungkin sekitar 30 menitan untuk turun ke air terjun. Walaupun masih recovery pasca gempa bumi beberapa saat lalu, tapi keindahannya ga pudar, masih bikin mata terbelalak. Siapin alas kaki sama outfit yang nyaman buat trekking ya, banyak tangga dan jalanan cukup terjal buat yang jarang trekking. Gue bisa bilang tempat ini majestic, kaya kalo liat kamu depan aku persis. Duileh.


Indah ya, air terjun Tiu Kelep ini.

Kalo yang ini Air Terjun Sendang Gile


Kalo makanannya, apa aja ya yang bisa dicobain di Lombok? 

Sebenernya banyak, cuma gue kasih tau top 3 favorit gue ya: Ayam Taliwang, Babalung dan Sate Rembiga. Wajib dicoba ya kalo pas ke Lombok. Enak banget, gue aja pasti nambah. Haha.

Ayam Taliwang ini enak banget deh, sedap!

Tempat-tempat yang gue datengin di Lombok ini bisa jadi pilihan saat lo kesini juga. Supaya ga repot bisa langsung pesen melalui Agoda.com/GoLocal. Pesen lewat Agoda  juga ga ribet, interface Agoda is user friendly. Pilihan buat bayarnya pun banyak bisa lewat ATM, transfer online, hingga OTC seperti Indomaret dan Alfamart. Ada juga metode yang hassle free yaitu dengan "pay at the hotels" jadi lo pesen terus bayar pas nyampe hotelnya. Mudah bukan? Aha! Oh iya, lo bisa menelusuri aplikasi Agoda atau Agoda.com pake bahasa Indonesia dan pake rupiah. Jadi gampang, uhuy!


Kalau butuh ide kegiatan apa yang bisa dilakukan di Lombok, cek tur dan pilihan aktivitas di Agoda Things To Do disini. Cuma tinggal klik, bayar, dan lo dah bisa berangkat dan menikmat semuanya tanpa mikir ini itu lagi, yakan. Gue berharap semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menginspirasi, sedikit ngobatin rasa kangen untuk menjelajahi daerah sekitar, mengenal Indonesia dan keindahan yang ada, terutama di Lombok. Sampai jumpa di cerita selanjutnya ya, sehat selalu buat kita semua. 


Selamat jalan-jalan, semoga kita berpapasan!


Cheers, 



Febrian

Selasa, 15 September 2020

Kok bisa kurusan? Ini dia rahasianya.

Pemirsa, semoga dalam keadaan sehat dan  bahagia ya. Udah lama sebenernya gue pengen sharing tentang perjalanan ngerubah pola hidup jadi lebih sehat. By the way gue saranin untuk kontak yang expert di bidang ini ya, gue cuma sharing berdasarkan pengalaman gue aja, mudah-mudahan bisa jadi motivasi buat lo atau sekitar lo juga. Back to 2018, gue sempet naik banget berat badannya walau waktu itu ngerasa baik-baik dan sehat-sehat aja, tapi ternyata dengan berat badan 80kg dan tinggi badan 170cm, bikin gue jadi ngerasa kok gue kalo trekking jadi berat, baju dan celana mulai pada ngetat, dan orang sekeliling gue pun mulai beropini "sekarang sehatan yah, lebih subur" (taneman kali ah subur, lol) akhirnya gue coba tuh mulai download freeletics pertama kali banget rekomendasi dari beberapa temen, lumayan sih sekitar 600-800rb rupiah per taun langganannya, cuma ya gue coba aja, eh sebulan dua bulan kok malahan cuma turun beberapa ons, bingung ya. 

Oktober 2018, 80kg.

Philippines pun masih besar aku, hehe.

Terus gue direkomendasiin sama temen gue yang gue ketemu dan udah kurusan serta bukan kurusan kaya sakit gitu tapi kurusan sehat gitu, karena nomor celana gue pun dari 30 tadinya jadi 34 ampir 36, huft. Eh iya gue direkomendasiin buat ke ahli gizi, akhirnya gue hadir lah dateng tuh ya ke nutrisionist tersebut dan konsultasi, ditimbang berat badannya, ketemu dokter, sampe dicek kadar lemak, kadar otot dan metabolisme badan gue. Jujur gue juga ga tau pasti gimana cara ngitungnya tapi yang gue inget di bulan Oktober 2018 itu gue dikasih tau kalo gue udah overweight tahap 2 dan metabolisme gue seperti orang berusia 42 tahun, disitu gue dikasih tau apa yang baik dikonsumsi sama tubuh dan mana yang kurang baik, seminggu sekali gue kontrol dan yang bisa gue share adalah gue diajarin buat ngehindarin gula, tepung dan minyak sekitar 3 bulanan sampe akhirnya gue bisa makan apapun tapi dalam porsi yang sewajarnya.

3 bulan kemudian udah kurus jadi 64-65kg lah.

Nah dari ahli gizi itu gue dikasih tau ternyata kenapa gue freeletics tapi ga turun berat badannya adalah karena masa lemak gue tuh berubah jadi masa otot, jadi berat gue ga turun. Akhirnya karena udah ngerubah pola makan jadi lebih baik, gue turun pemirsa, tanpa freeletics dan cuma olahraga cardio biasa aja kaya lari atau sepedaan, selama 3 bulan gue turun berat badannya dari 80kg jadi 64kg, dan akhirnya gue baru mulai rutin buat ngelakuin freeletics lagi seminggu 3x.

Awal pandemi masih olahraga sendiri di apartemen.

Kalo ditanya sekarang berat badan gue adalah 67kg dan gue ngerasa sehat, yang paling penting adalah menurut gue ya ngerasa sehatnya itu, sayangin diri sendiri, bukan karena pengen badan bagus, itu mah bonus aja, toh kalo kita pola hidupnya sehat, badan mah kebentuk sendiri dengan makan yang sehat dan olahraga teratur kok, berdasarkan pengalaman gue sih gitu. Sekarang gue udah ga ke ahli gizi lagi, tapi karena udah lebih ngerti mana yang baik dikonsumsi dan kurang baik, akhirnya sekarang berat badan gue segini-gini aja, dan ngerasa jauh lebih fit dan sehat sekarang. 

Sekarang jadi lebih lentur juga, bisa nih kerja di sirkus, lol.

Saat traveling pun gue tetep bisa olahraga karena pake aplikasi di HP jadi bisa dimana aja.

Di Labuan bajo pun tetep olahraga.

Nah awal-awal pandemi, gue olahraga sendiri rutin pake aplikasi freeletics seminggu 3x sampe intensitasnya gue naekin jadi 5x seminggu, semenjak pindah rumah dari apartemen, gue sekarang jadi olahraga rame-rame serumah, ternyata makin banyak temen makin semangat, mungkin lo tinggal sendiri atau sama keluarga atau sama temen, tapi seneng deh kalo kita bisa ajak orang lain buat hidup lebih sehat juga. Sekarang olahraga gue masih sama pake freeletics 5x seminggu dan Sabtu gue pilates di rumah bareng yang lain, Minggu adalah harinya Tuhan, jadi rest day alias day off. 

Seneng banget sekarang ada temen olahraganya.

Mudah-mudahan cerita gue ini bisa jadi motivasi atau inspirasi buat yang baru mau mulai, karena kalo ga mulai sekarang, kapan mau mulai coba? Nih yah gue cuma mau ingetin, badan bagus itu relatif, yang penting sehat dan kita ngerasa nyaman ama diri kita sendiri. Kontak orang yang expert di bidang olahraga atau nutrisi, karena gue bukan expert di bidang ini. Semangat dan semoga cerita gue bisa bermanfaat buat lo mulai sesuatu di masa sulit ini, yuk kita bikin sesuatu yang positif dan bisa berdampak buat kita juga, bukan cuma jangka pendek, tapi jangka panjang juga. Kalo mau disayang orang lain, sayangin dulu diri sendiri. Stay safe, sane and healthy everyone! 

September, 2020.


What a journey!


Cheers, 


Febrian